Bukti Ada, Pelaku Lolos: Sabung Ayam Kembali Dibubarkan di Bulukumpa

Bulukumba,Merahputihindonesia.com– Pembubaran sabung ayam di Bulukumpa kembali terjadi. Arena dibongkar, kayu dibakar, api menyala. Lalu selesai. Setidaknya, itulah yang selalu ingin ditampilkan ke publik. Namun di balik abu yang tersisa, persoalan sesungguhnya tetap berdiri utuh: pelaku tak tersentuh, jaringan aman, dan praktik perjudian terus hidup.

Ini bukan lagi soal satu kejadian. Ini adalah pola. Ketika praktik sabung ayam berulang, sementara penindakan selalu berhenti di arena, publik berhak menyimpulkan satu hal: negara hanya berani pada benda mati, tapi ragu menyentuh aktor hidup di belakangnya.

Read More

Sabung ayam bukan sekadar hiburan tradisional yang “kebablasan”. Ia adalah aktivitas ekonomi ilegal. Ada uang, ada bandar, ada alur distribusi taruhan. Membakar arena tanpa menyentuh alur uang sama saja dengan memotong daun, sementara akarnya dibiarkan tumbuh subur. Dalam kondisi seperti ini, pembakaran arena tidak lebih dari simbol ketegasan yang kosong.

Negara sering berdalih bahwa judi adalah penyakit masyarakat. Tetapi penyakit tidak akan sembuh jika yang diobati hanya gejalanya. Selama tekanan ekonomi, sempitnya ruang hidup rakyat, dan lemahnya kontrol terhadap jaringan perjudian tidak disentuh, sabung ayam akan selalu menemukan ruang untuk hidup—di Bulukumpa atau di tempat lain.

Kolom ini tidak sedang menyalahkan aparat di lapangan semata. Justru sebaliknya: persoalan ini menunjukkan adanya kegagalan pendekatan yang lebih luas. Ketika penindakan tidak disertai keberanian struktural—menyentuh bandar, alur uang, dan aktor kunci—maka aparat di lapangan hanya akan terus berputar dalam siklus yang sama: datang, membubarkan, lalu pergi.

Bulukumpa tidak kekurangan razia. Yang kurang adalah ketegasan yang konsisten dan transparan. Jika tidak, maka setiap pembubaran hanya akan menjadi panggung rutin: api dinyalakan, kamera merekam, berita ditulis, lalu sabung ayam kembali berjalan keesokan harinya.

Pada titik ini, pertanyaannya tidak lagi sederhana. Bukan “mengapa sabung ayam terus ada”, melainkan mengapa sistem selalu gagal menghentikannya. Dan selama pertanyaan itu tidak dijawab dengan tindakan nyata, maka sabung ayam bukan sekadar penyakit masyarakat—ia adalah cermin dari penegakan hukum yang setengah hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *