Tantangan Terbuka untuk Kasat Narkoba Baru Bulukumba: “Jangan Samakan Maros dengan Bulukumba”

BULUKUMBA.Merahputihindonesia.com – Di tanah Butta Panrita Lopi, perang melawan narkotika kembali menggema. Bukan sekadar suara biasa, melainkan dentuman kegelisahan masyarakat yang sudah terlalu lama menyaksikan racun itu menyusup pelan ke lorong-lorong kehidupan, merusak masa depan generasi muda tanpa suara.

Kehadiran AKP Salehuddin sebagai Kasat Resnarkoba Polres Bulukumba yang baru kini menjadi pusat perhatian. Rekam jejaknya di Polres Maros memang lebih dulu dikenal, namun Bulukumba bukan wilayah yang bisa dibaca dengan ukuran yang sama. Daerah ini memiliki wajah persoalan yang lebih keras, akar peredaran yang lebih dalam, dan tekanan publik yang jauh lebih tajam.

Read More

Sorotan keras itu datang dari Ketua Forum Bersama (Forbes) Anti Narkoba Kabupaten Bulukumba, Sam Prakoso. Dengan nada tegas, ia mengingatkan bahwa jabatan baru ini bukan sekadar pergantian kursi, melainkan pertaruhan keberanian di hadapan masyarakat yang mulai lelah dengan janji dan seremoni.

“Maros tidak sama dengan Bulukumba. Jangan coba-coba bermain atau macam-macam di sini. Banyak pekerjaan besar yang menanti untuk dituntaskan, bukan sekadar melanjutkan rutinitas pejabat sebelumnya,” tegas Sam.

Kalimat itu meluncur bukan sekadar kritik, melainkan suara keresahan yang lama terpendam. Sebab di Bulukumba, narkotika tak lagi dipandang sebagai kasus biasa. Ia telah menjelma bayang-bayang gelap yang mengintai anak-anak muda, menyusup ke lingkungan sosial, lalu perlahan mematahkan harapan keluarga satu per satu.

Forbes Anti Narkoba pun tak berhenti pada peringatan. Mereka melempar tantangan terbuka kepada jajaran Satresnarkoba Polres Bulukumba: bongkar jaringan besar yang disebut-sebut mengakar kuat di Kecamatan Bulukumpa.

Tak tanggung-tanggung, organisasi itu bahkan memberi tenggat waktu tegas—2×24 jam—untuk membuktikan bahwa perang terhadap narkoba bukan sekadar slogan yang habis di podium pidato.

Target utama mereka jelas: seorang bandar besar yang diduga berdomisili di Kecamatan Bulukumpa, beserta jejaring lintas provinsi yang disebut-sebut kini terdeteksi berada di wilayah Tanete.

“Kami beri waktu paling lambat 2×24 jam untuk membongkar bandar besar itu beserta jaringannya. Masyarakat menunggu keberanian, bukan seremoni pergantian jabatan,” lanjut Sam.

Kini, mata publik tertuju pada langkah pertama AKP Salehuddin. Di pundaknya, masyarakat menitipkan harapan sekaligus tekanan. Sebab Bulukumba tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar hadir untuk mengisi jabatan. Bulukumba membutuhkan keberanian yang sanggup menabrak tembok ketakutan, membongkar jaringan yang selama ini terasa kebal disentuh hukum.

Di tanah ini, perang melawan narkoba bukan hanya soal penangkapan. Ini adalah perang mempertahankan masa depan. Perang menyelamatkan generasi muda agar tidak tumbuh di bawah bayang-bayang barang haram yang perlahan menggerogoti kehidupan.

Dan hari ini, masyarakat sedang menunggu: apakah genderang perang itu benar-benar akan berubah menjadi tindakan nyata, atau hanya kembali menjadi gema yang hilang di tengah riuh pergantian jabatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *