Pendidikan Emas atau Cemas: Siapa yang Masih Mampu Bertahan?

Makassar,Merahputihindonesia.com — Di tengah riuh pembangunan, suara pendidikan nyaris tenggelam. Harapan yang semestinya tumbuh, kini diuji. Kenaikan UKT dan BKT mengguncang kampus-kampus; di UIN Alauddin Makassar, kegelisahan itu terasa nyata di kelas, di ruang diskusi, hingga di hati para orang tua.

Pendidikan yang mestinya menjadi jembatan masa depan, perlahan berubah menjadi gerbang berbayar. UKT dan BKT menjelma batas tak kasat mata menyaring yang mampu, menahan yang lemah. Di balik angka-angka itu, ada mimpi yang ditunda.

Read More

Pardi menilai, ini bukan sekadar kebijakan, melainkan arah: ketika ilmu ditakar rupiah, pendidikan bergeser dari hak menjadi komoditas. Ironisnya, transparansi komponen BKT masih kabur, terutama di Fakultas Sains dan Teknologi. Pertanyaan ada, jawaban belum utuh.

Suara mahasiswa pun kerap di pinggirkan. Kampus yang seharusnya hidup dengan dialog, kini terasa sunyi. Demokrasi melemah, partisipasi mengecil.

Pertanyaannya sederhana: pendidikan masih untuk semua, atau hanya untuk yang mampu?

Sudah waktunya bersuara. Sebab pendidikan bukan soal siapa yang bisa membayar, tapi siapa yang berhak bermimpi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *