Tiga Guru MAN 1 Bulukumba Didaulat Jadi Dewan Hakim dalam Perayaan Hari Santri 2025

Merahputihindonesia.comBULUKUMBA – Suara lantunan selawat menggema dari lapangan Desa Swatani, Kecamatan Rilau Ale, Minggu (12/10/2025). Langit pagi tampak bening, tapi semangat ribuan santri dari berbagai pesantren di Bulukumba membuncah. Di bawah payung acara Peringatan Hari Santri Nasional 2025 tingkat Kabupaten Bulukumba, mereka bukan hanya hadir untuk lomba, tetapi untuk menegaskan eksistensi: santri masih menjadi denyut nadi moral bangsa.

Acara resmi dibuka oleh Asisten Bupati Bidang Administrasi Umum, Daud Kahal, didampingi Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Pontren) Kementerian Agama Bulukumba. Dari podium sederhana di sisi timur Pondok Pesantren Shohibul Qur’an, suasana khidmat berbaur dengan antusiasme para peserta.

Read More

 

Tahun ini, panitia mencatat 143 peserta dari 16 pesantren berkompetisi dalam cabang baca kitab kuning, tahfidz Al-Qur’an, serta pidato berbahasa Indonesia, Arab, dan Inggris. Namun di balik semarak perlombaan itu, terselip kisah menarik tentang tiga sosok pendidik yang mewakili wajah intelektual madrasah negeri: Ahmad Arfah, Ihsan Ashadi, dan Sitti Hamzah  tiga guru MAN 1 Bulukumba yang dipercaya sebagai dewan hakim dalam cabang lomba pidato Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.

 

Dari Ruang Kelas ke Panggung Penilaian

Ketiganya bukan nama baru di dunia perlombaan keagamaan dan kebahasaan. Mereka sudah sering menjadi juri dan dewan hakim di berbagai ajang, dari tingkat kabupaten hingga provinsi.
Rekam jejak itulah yang mengantar mereka ke posisi strategis dalam perhelatan Hari Santri kali ini.

Alhamdulillah, kami bersyukur atas kepercayaan ini. Guru-guru kami akan menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya bersama dewan hakim lain,” ujar Syarifuddin, Kepala MAN 1 Bulukumba, saat ditemui di sela kegiatan.

Bagi Syarifuddin, kehadiran tiga gurunya di jajaran dewan hakim bukan hanya soal kehormatan lembaga, tetapi bukti nyata bahwa madrasah tidak lagi berada di pinggiran kualitas pendidikan.
Ini pengakuan bahwa guru madrasah punya kapasitas yang diakui secara profesional,” tambahnya.

 

Makna di Balik Lomba: Santri dan Tradisi Ilmu

Di permukaan, lomba-lomba seperti pidato atau baca kitab mungkin terlihat sebagai rutinitas tahunan. Namun bagi kalangan pesantren, kompetisi semacam ini adalah ritual intelektual dan spiritual.

Setiap santri yang berdiri di panggung tidak hanya menguji kemampuan bicara, tapi juga menggali kembali akar keilmuan dan moralitas.
Di situlah makna Hari Santri menjadi terasa hidup  bukan sekadar perayaan, tapi muḥāsabah (introspeksi) tentang sejauh mana pesantren masih memelihara warisan keilmuan di tengah arus modernitas yang kian cepat.

Para dewan hakim dari MAN 1 Bulukumba pun memegang peran penting. Mereka menjadi penjaga objektivitas dan marwah perlombaan, sembari tetap menanamkan nilai-nilai adab di balik penilaian teknis.

 

Filosofi Santri di Tengah Zaman yang Bergerak

Peringatan Hari Santri tahun ini tidak hanya menjadi ajang apresiasi, tetapi juga momentum refleksi. Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan gaya hidup instan, posisi santri dan pesantren sering diuji: apakah mereka akan tetap menjadi pusat nilai dan moralitas, atau tergilas oleh modernitas tanpa arah?

Menurut Syarifuddin, peran pesantren kini harus melampaui sekadar pendidikan agama.
Pesantren perlu membuka diri terhadap isu-isu baru  ekonomi, teknologi, hingga kebudayaan. Karena masa depan bangsa tak bisa hanya ditopang oleh doa, tapi juga inovasi,” tegasnya.

Filosofi itu sejalan dengan semangat Hari Santri 2025 yang mengangkat tema Santri Siaga Jiwa dan Raga untuk Indonesia Maju menandai bahwa keberadaan santri bukan hanya di ruang ibadah, tetapi juga di ruang publik, bahkan di pusaran kebijakan.

 

 Jejak yang Tak Sekadar Tanda

Hari itu, di antara bendera-bendera oranye dan hijau yang berkibar di lapangan Swatani, tiga guru MAN 1 Bulukumba menorehkan langkah kecil namun bermakna besar. Mereka menjadi cermin bahwa ilmu, dedikasi, dan integritas adalah mata rantai yang harus terus dijaga.

Sebab santri  dalam arti paling filosofisnya  bukan hanya mereka yang tinggal di pesantren, tapi siapa pun yang menundukkan ego demi belajar dan berbuat baik.

Dan ketika tiga guru itu menilai dengan hati, bukan sekadar pena, kita tahu:
Hari Santri bukan sekadar seremonial tahunan. Ia adalah gerakan sunyi yang terus menyalakan api ilmu di tengah gelapnya zaman.

 

 

 

Penulis: Ibrahim 

Penerbit Redaksi 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *