Sabtu Produktif: Saat Tikar dan Buku Menjadi Perlawanan Sunyi di Tanete

Merahpuihindonesia.comBulukumba — Sore itu, langit Tanete menggantung rendah. Di antara biru muda yang perlahan larut oleh garis jingga senja, udara membawa aroma tanah yang baru disiram hujan, berpadu dengan wangi kopi dari kedai di seberang Rumah Sakit Andi Makkarodda. Di belakang Micino Eki, beberapa anak muda membentangkan tikar di atas lantai. Bukan untuk bersantai, tapi untuk menata sesuatu yang lebih berharga dari sekadar hiburan ,buku.

Buku-buku itu sederhana, sebagian sudah menguning di tepi halamannya. Ada puisi, novel, catatan perjalanan, hingga tulisan pengembangan diri. Namun sore itu, di Tanete, lembar-lembar kertas itu menjadi tanda kebangkitan kecil kembalinya Komunitas Literasi Satu Atap setelah beberapa bulan tertidur oleh kesibukan dunia nyata.

Mereka menyebutnya “Sabtu Produktif.” Sebuah gerakan sederhana, tapi sarat makna: menyatukan buku, pembaca, dan kesunyian menjadi perbincangan yang lebih hangat dari secangkir teh sore. Di atas tikar itulah, semangat lama dinyalakan kembali dengan cara yang paling sederhana, namun paling tulus.

 

Tikar yang Menyimpan Cerita

Pukul empat sore, satu per satu mereka datang. Ilham, Rifki, Ciwang, dan wajah-wajah muda lain yang membawa cahaya di matanya. Tanpa komando, mereka bergerak: menata buku, memilah genre, dan membuka lapak baca gratis untuk siapa saja yang ingin singgah.

Tak ada syarat, tak ada biaya hanya tikar, buku, dan keikhlasan waktu.

Sejak awal kegiatan ini memang dibuat untuk memberikan stimulus bagi kaum muda agar mencintai dunia literasi,” ujar Ilham Salwar, salah satu penggerak komunitas itu, dengan suara tenang namun penuh keyakinan.

 

Di sekitar mereka, tawa anak-anak kecil menggema. Seorang remaja duduk di pojok tikar, membaca puisi Sapardi dengan suara pelan. Sore itu, literasi bukan teori, bukan wacana seminar. Ia hidup, bernafas, dan berbicara lewat manusia-manusia yang rela duduk di tikar berdebu demi menghidupkan gagasan.

 

Apresiasi yang Tak Pernah Padam

Bagi mereka yang melintas di depan rumah sakit, pemandangan itu seperti oase di tengah kebisingan kota kecil. Sulhan, pemilik RM Berkah yang berdiri tepat di seberang jalan, menatap dengan kagum.

Keren, kegiatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Mereka mengemas kegiatan ini dengan kreatif dan produktif. Terlihat sederhana, tapi manfaatnya besar,”
ujarnya sambil tersenyum, seolah menemukan sesuatu yang hilang di tengah hiruk pikuk bisnis harian.

 

Seorang pengunjung, Baim, ikut menimpali. “Kegiatan seperti ini bukan cuma tentang membaca, tapi tentang kesadaran. Tentang menyalakan lampu kecil di tempat yang nyaris gelap.”

Dan Rifki menambahkan dengan nada filosofis, “Ini bukan kegiatan besar, tapi manfaatnya bisa lebih luas dari yang kita bayangkan. Karena yang kecil tapi ikhlas, sering kali lebih abadi dari yang megah tapi cepat padam.”

Kalimat itu meluncur seperti doa kecil—lahir dari kejujuran, bukan formalitas.

 

Ruang yang Kembali Bernyawa

Sore makin meredup. Ciwang menepuk tikar yang berdebu, matanya berbinar. “Akhirnya, kita bisa ngelapak lagi,”

katanya dengan tawa yang jujur tawa seseorang yang baru menemukan kembali jati dirinya.

Di antara mereka hadir pula Amar Ma’ruf, Ketua Pemuda Pancasila Kecamatan Bulukumpa. Ia berdiri di sisi tikar, menyimak kegiatan dengan mata penuh dukungan.

Kami siap selalu membersamai teman-teman untuk kegiatan ini setiap minggu. Semoga semangat seperti ini tak pernah padam,” ujarnya.

 

Pernyataan sederhana itu seolah menjembatani dua dunia antara kaum muda pencinta buku dan organisasi masyarakat yang bertekad menjaga ruang-ruang damai di tengah zaman yang gaduh.

 

Harapan yang Menyala dari Halaman

Suriyandi Asbir, anggota Komunitas Literasi Satu Atap, menatap halaman buku yang terbuka lalu berucap lirih, “Kita berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bulukumba, mau menengok kegiatan seperti ini. Karena dari sinilah, peradaban tumbuh.”

Bagi Suriyandi, literasi bukan sekadar membaca huruf. Ia adalah tindakan melawan lupa. Melawan budaya cepat, malas berpikir, dan generasi yang makin jauh dari makna.

Literasi, dalam pandangan mereka, adalah bentuk perlawanan paling halus terhadap keacuhan sosial. Sebab membaca, sesungguhnya, adalah cara paling lembut untuk mempertanyakan dunia.

 

Lebih dari Sekadar Lapak Buku

Sabtu Produktif bukan acara seremonial, bukan pula proyek yang menunggu sorotan. Ia adalah filosofi bahwa membaca bisa menjadi ritual spiritual di tengah zaman yang kehilangan arah.

Di Tanete, literasi tidak mengenal gedung megah atau sponsor besar. Ia lahir dari tikar, dari tangan-tangan yang menata buku dengan cinta, dari tawa kecil yang menolak kalah oleh waktu.

Mereka mungkin tak punya panggung, tapi sore itu mereka punya cahaya cahaya dari halaman-halaman yang kembali dibuka, dari pikiran yang kembali dihidupkan.

Sebab pada akhirnya, literasi bukan hanya tentang membaca buku.
Ia adalah tentang membaca diri sendiri, membaca sekitar, dan membaca kehidupan.

Dan di Tanete, sore itu, kehidupan sedang dibaca kembali pelan-pelan, tapi dengan hati yang menyala.

 

 

 

 

Penulis Fitriani 

Penerbit Redaksi 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *