Digitalisasi Madrasah: Dari Papan Tulis ke Layar Sentuh, MAN 1 Bulukumba Meretas Jalan Baru

MerahPutihIndonesia.com – Bulukumba – Di tengah arus deras zaman yang tak pernah menunggu siapa pun, MAN 1 Bulukumba kembali menorehkan langkah berani. Sabtu (27/09), madrasah ini menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Mandiri Penggunaan Aplikasi AritmAric Jurnal,sebuah aplikasi sederhana namun sarat makna, yang lahir dari ruang kelas, dari kegelisahan seorang guru, dan kini tumbuh menjadi simbol transformasi digital.

Read More

Pagi itu, ketika jarum jam menunjuk pukul 08.00 WITA, aula madrasah seolah menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa depan. Kepala MAN 1 Bulukumba, H. Syarifuddin, membuka kegiatan dengan kata-kata yang bukan sekadar sambutan, tetapi refleksi tentang zaman yang bergerak cepat. Ia menegaskan, kreativitas dan inovasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi guru untuk tetap relevan.

“Guru bukan hanya penyampai pengetahuan, tetapi juga penggerak perubahan. Aplikasi ini semoga menjadi model, tidak hanya bagi kita, tetapi juga bagi seluruh madrasah di Bulukumba,” ucapnya penuh harap.

 

Yang membuat kegiatan ini semakin istimewa, materi disampaikan langsung oleh sang penggagas: Ika Mustika, S.Pd., guru MAN 1 Bulukumba yang sekaligus perancang AritmAric Jurnal. Dengan AppSheet sebagai medium, ia menjahit kebutuhan nyata para pendidik menjadi sebuah perangkat digital yang efisien. Di balik layar aplikasi ini, tersimpan semangat sederhana: bagaimana kerja guru dapat terdokumentasi rapi, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Para guru, yang sehari-hari bergulat dengan papan tulis, buku absen, dan lembar laporan kerja, tampak serius mendalami tiap fitur: mulai dari pencatatan jurnal kelas, analisis asesmen, hingga penyusunan laporan kerja harian. Laptop-laptop pribadi menjadi saksi transisi dari analog ke digital, dari rutinitas manual ke sistem yang lebih terstruktur. Proses unggah data, pengisian formula, hingga sinkronisasi dengan ponsel Android pribadi tidak hanya menjadi praktik teknis, tetapi juga simbol kesiapan mereka melangkah ke era baru.

Namun di balik antusiasme itu, terselip pula pertanyaan filosofis: apakah digitalisasi benar-benar memudahkan, ataukah justru menghadirkan beban baru berupa kontrol yang semakin ketat? Bukankah teknologi selalu memiliki dua wajah satu yang menjanjikan efisiensi, satu lagi yang bisa mengekang kebebasan?

Kepala madrasah, dengan optimisme yang tak terbantahkan, menargetkan aplikasi ini mulai digunakan aktif Oktober mendatang, bahkan diwajibkan di seluruh madrasah Bulukumba pada Januari 2026.

“Insya Allah, AritmAric Jurnal akan menjadi standar, bukan sekadar eksperimen,” tegasnya.

Di titik inilah, kita melihat sebuah perjalanan penting: dari kerja individu seorang guru yang resah, lahirlah inovasi yang berpotensi mengubah wajah administrasi pendidikan. Dari ruang madrasah kecil di Bulukumba, bisa jadi akan tumbuh inspirasi bagi digitalisasi pendidikan di tingkat yang lebih luas.

AritmAric Jurnal bukan hanya aplikasi. Ia adalah cermin. Cermin yang memperlihatkan bagaimana pendidikan harus beradaptasi dengan dunia yang serba cepat, tetapi sekaligus mengingatkan: teknologi hanyalah alat. Nilai kemanusiaan, semangat mendidik, dan integritas tetap menjadi inti yang tak boleh pudar.

Mungkin, kelak, anak-anak madrasah ini akan menertawakan cerita tentang gurunya yang dulu menulis manual di buku jurnal tebal. Tetapi justru dari tawa itulah lahir kesadaran: bahwa setiap zaman punya alatnya, dan tugas kita adalah memastikan alat itu digunakan untuk membebaskan, bukan membelenggu.

 

By Ibrh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *