MerahPutihIndonesia.Com
Oleh sam Prakoso :
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai digulirkan sejak Januari 2025 adalah tonggak baru cara negara menunaikan janjinya pada rakyat: hadir, bukan sekadar lewat kata, melainkan lewat piring makan anak-anak bangsa. Dalam sembilan bulan pertama, lebih dari 20 juta anak telah merasakan manfaatnya; sekitar 1,1 miliar porsi telah tersaji, mengubah ruang kelas dari sekadar tempat belajar menjadi juga ruang pemenuhan hak dasar.
MBG bukan hanya tentang makanan. Ia adalah pernyataan moral bahwa masa depan bangsa dimulai dari tubuh yang sehat dan pikiran yang jernih. Pendidikan tanpa gizi hanyalah fondasi yang keropos. Sebaliknya, gizi tanpa pendidikan adalah rumah tanpa atap. Keduanya tak boleh dipertentangkan, sebab keduanya adalah dua sisi dari pembangunan manusia seutuhnya.
Namun skala besar selalu mengandung paradoks. Di satu sisi, jutaan porsi per hari menyingkap kemampuan koordinasi negara. Di sisi lain, ia membuka celah rapuh pada rantai pasok: menu yang terlalu rumit, jarak distribusi yang panjang, hingga standar higiene yang seringkali kalah oleh kejaran target. Tragedi kesehatan yang menimpa ribuan anak adalah alarm keras: sebesar apa pun prestasi angka, satu anak sakit saja sudah cukup menjadi panggilan moral untuk koreksi.
Laporan resmi mencatat sekitar 5.000 kasus, sementara jaringan masyarakat sipil menambahkan beberapa ratus lagi. Proporsinya memang kecil hanya 0,000487 persen dari total porsi. Tapi di balik angka itu ada wajah, ada nama, ada keluarga yang kecewa, dan ada rasa percaya yang tergores. Kepercayaan publik adalah gizi lain yang harus dijaga, sebab tanpa itu program sebesar apa pun bisa kehilangan legitimasi.
Koreksi sudah mulai ditapaki: penutupan dapur bermasalah, percepatan sertifikasi, pelibatan BPOM dan aparat hukum. Namun yang dibutuhkan bukan sekadar langkah reaktif, melainkan disiplin institusional yang hidup lebih lama dari hiruk-pikuk berita. Koreksi sejati adalah ketika prosedur berubah menjadi budaya, ketika standar keamanan menjadi nafas harian para pengelola dapur.
Di sinilah MBG diuji: apakah ia sekadar proyek politik, atau sungguh kerja peradaban. Sebab MBG menyentuh lapisan terdalam dari janji negara hak anak. Dari dapur sederhana di desa terpencil hingga sekolah besar di kota metropolitan, setiap porsi harus aman, bergizi, dan adil. Kesetaraan bukan hanya soal kuantitas, tapi juga soal kualitas.
Lebih jauh, MBG membawa dimensi ekonomi rakyat. Ketika UMKM lokal, koperasi desa, dan tenaga kerja setempat dilibatkan, maka program ini tidak hanya memberi makan anak, tetapi juga menggerakkan ekonomi akar rumput. Namun keberpihakan itu tak boleh melahirkan kompromi: pangan rakyat harus aman bagi rakyat.
Di balik semua capaian dan masalahnya, MBG menyingkap pertanyaan yang lebih besar: apakah negara serius menempatkan kesehatan dan masa depan anak sebagai prioritas, ataukah program ini hanya akan tercatat sebagai proyek sesaat megah di awal, rapuh di dalam?
Pada akhirnya, setiap sendok nasi, setiap potong lauk, setiap tetes kuah yang sampai ke mulut anak adalah simbol. Simbol kesungguhan negara menjaga kehidupan. Simbol bahwa pembangunan bukan lagi angka di laporan, melainkan kenyataan di meja makan.
MBG adalah cermin. Ia memperlihatkan apakah kita sungguh sedang membangun bangsa, atau sekadar menggelar proyek.
Penulis ZUL FAJRI
PENERBIT REDAKSI
