Bulukumba.Merahputihindonesia.com – Di Dusun Samaturu’e, Desa Taccorong, ada jalan yang tak lagi sekadar dilalui ia kini dirasakan. Setiap lubangnya menyimpan keluh, setiap debunya membawa resah. Dari SD 230 Palambarae hingga MIS Panggala, hamparan itu bukan lagi sekadar jalur, melainkan cerita tentang keterabaian yang terlalu lama dibiarkan.
Saat kemarau, ia berdebu mengaburkan pandangan, menyesakkan napas. Saat hujan turun, ia berubah jadi lumpur menahan langkah, melambatkan harap. Di jalan inilah, jenazah-jenazah diantar menuju TPU Taccorong, dalam perjalanan terakhir yang seharusnya penuh hormat, bukan perjuangan.
Namun kini, penghormatan itu kerap terguncang oleh jalan yang tak lagi ramah.Di beberapa titik, kendaraan menyerah. Roda tak lagi mampu melawan luka jalan yang menganga. Para petani pun ikut terhenti—akses ke sawah menjadi sulit, hasil panen tertahan di ujung harap.
Ini bukan cerita baru. Ini luka lama yang terus dibuka.
Yoga Jatro, salah satu warga, menyuarakan yang telah lama terpendam.
“Suara ini sudah berkali-kali kami kirim—di pertemuan, di jalan, bahkan di media sosial. Tapi hingga hari ini, seolah menguap tanpa jawaban.”
Padahal, TPU Taccorong bukan sekadar tempat sunyi. Ia adalah bagian dari denyut daerah aset yang menyumbang bagi Pendapatan Asli Daerah. Setiap tahunnya, ada angka yang masuk, ada kontribusi yang nyata. Namun ironis, jalan menuju ke sana justru seperti dilupakan.
Menjelang Idul Adha, waktu seakan berlari lebih cepat. Tradisi ziarah akan kembali menghidupkan langkah-langkah menuju makam. Tapi bagaimana mungkin langkah itu ringan, jika jalannya masih berat?
“Sebentar lagi Idul Adha. Orang-orang akan datang untuk berziarah. Tapi kalau jalannya seperti ini, bukan hanya sulit ini menyulitkan rasa,” ucap Yoga, lirih namun tegas.
Padahal, jika jalan ini dipulihkan, bukan hanya satu urusan yang selesai. Ia akan mengalirkan manfaat ke banyak sisi kehidupan.Petani akan lebih mudah membawa hasil panen.
Anak-anak akan lebih aman menuju sekolah.
Dan setiap jenazah akan diantar dengan layak, tanpa harus berjuang melawan jalan.Satu perbaikan, banyak kehidupan yang bergerak.
Maka warga Taccorong tak lagi sekadar berharap—mereka kini mendesak.Pemerintah Kabupaten Bulukumba diminta hadir, bukan hanya dalam kata, tapi dalam kerja nyata.
“Kami tidak meminta yang berlebihan. Kami hanya ingin jalan ini diperbaiki. Karena ini bukan sekadar jalan ini tentang kehidupan kami,” tegas Yoga.
Dan jika suara ini kembali diabaikan, warga telah menyiapkan langkah berikutnyalangkah yang lebih keras dari sekadar kata.
Bukan sebagai ancaman kosong, melainkan bentuk terakhir dari harapan yang tak kunjung dijawab.
Sebab bagi warga Taccorong, jalan ini bukan hanya tanah yang dipijak.
Ia adalah jalur kehidupan, jalur perpisahan terakhir, dan jalur masa depan.Dan ketika jalan itu rusak, yang retak bukan hanya aspal tapi juga kepercayaan.
