BULUKUMPA.Merahputihindonesia.com – Pagi itu, di Jalan Bunga Harapan, Lingkungan Kampung Baru, Kelurahan Jawi-Jawi, bukan hanya suara cangkul yang beradu dengan tanah. Ada semangat yang bergerak, ada kepedulian yang tumbuh dari hati para pemuda dan warga yang berkumpul dalam satu tujuan: menjaga kampung tetap hidup, tetap layak untuk dicintai.
Sejak matahari mulai meninggi, tangan-tangan tak lagi diam. Rumput liar yang selama ini diam-diam merayap di sela-sela aspal, dicabut, dibersihkan, lalu disemprot agar tak kembali merusak jalan yang setiap hari dilalui.
Di beberapa titik, lubang-lubang kecil di jalan tak dibiarkan menganga. Mereka ditimbun dengan kerikil, sederhana, tapi penuh makna bahwa kepedulian tak selalu harus menunggu besar, cukup dimulai dari yang ada.
Di tengah aktivitas itu, hadir pula Babinsa Jawi-Jawi, Kepala Lingkungan Kampung Baru, serta para RT. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi tanda bahwa kebersamaan masih berdiri kokoh di tengah masyarakat.
Salah satu pemuda, Amar Ma’ruf, berdiri di antara mereka, bukan hanya sebagai bagian dari kerja bakti, tetapi juga sebagai suara dari keresahan yang selama ini dirasakan.
“Rumput yang tumbuh di aspal ini kalau dibiarkan, perlahan akan merusak jalan. Karena itu kami bersihkan, kami rawat, semampu yang kami bisa,” ucapnya.
Namun, di balik kerja keras itu, tersimpan harapan yang belum terjawab.Ketika malam tiba, jalan yang sama berubah sunyi dan gelap. Cahaya tak cukup hadir untuk memberi rasa aman. Bayangan menjadi panjang, dan kekhawatiran ikut tumbuh.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah kelurahan, untuk pemasangan lampu jalan,” lanjut Amar, dengan nada yang tenang namun penuh makna.
Bukan tanpa alasan. Kampung yang mereka cintai pernah merasakan luka empat ekor sapi hilang dalam satu malam, meninggalkan jejak kekhawatiran yang belum sepenuhnya hilang.
“Sejak itu, kami merasa kampung ini butuh perhatian lebih. Kami ingin kembali merasa aman di tempat kami sendiri,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Lingkungan Kampung Baru, Irsyam, melihat lebih dari sekadar kegiatan bersih-bersih. Ia melihat harapan yang sedang dibangun perlahan.
“Kegiatan ini bukan hanya soal kebersihan. Ini tentang kebersamaan, tentang bagaimana warga saling menjaga dan peduli,” ujarnya.
Ia pun berharap semangat itu tidak padam di tengah jalan.
“Pemuda adalah harapan. Dari mereka lahir ide-ide besar untuk kampung ini. Saya berharap mereka terus bergerak, terus berbuat,” tambahnya.
Hari itu, kerja bakti memang berakhir. Sapu akan disimpan, cangkul akan diletakkan.
Namun semangatnya…
tidak boleh ikut berhenti.
Karena bagi warga Bunga Harapan, menjaga kampung bukan hanya soal hari ini tapi tentang masa depan yang ingin mereka terangi, bersama.
