Bulukumpa — Merahputihindonesia.com – Di tengah rutinitas sekolah dasar di pelosok Kecamatan Bulukumpa, ada satu pagi yang terasa berbeda. Selasa, 28 Oktober 2025, halaman UPT SDN 73 Kaseseng berubah menjadi panggung kebangsaan kecil. Di sinilah, anak-anak dengan seragam rapi, sebagian mengenakan pakaian adat penuh warna, berdiri tegak di bawah matahari pagi — menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan suara lantang, seolah ingin menegaskan: semangat Sumpah Pemuda belum mati.
Upacara dimulai dengan penuh khidmat. Kepala Sekolah Eni Rosdiani, S.Pd., memimpin jalannya upacara sebagai pembina. Di belakangnya, para guru berdiri rapi, mengarahkan jalannya kegiatan dengan wajah serius namun teduh. Tak ada kemewahan di sana — tak ada panggung megah, tak ada pengeras suara besar — yang ada hanyalah ketulusan dalam menanamkan nasionalisme sejak dini.
Menyelami Makna yang Kadang Terlupa
Tahun 2025 menandai peringatan ke-97 Hari Sumpah Pemuda, dengan tema nasional “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu.” Bagi sebagian orang, tema itu mungkin sekadar slogan tahunan. Namun bagi SDN 73 Kaseseng, kalimat itu diterjemahkan menjadi gerakan nyata — membentuk karakter anak-anak agar tumbuh dengan kesadaran kebangsaan dan rasa persatuan di tengah keberagaman.Dalam amanatnya, Kepala Sekolah Eni Rosdiani menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda bukan hanya milik para remaja dan mahasiswa, tetapi juga harus mulai dipupuk sejak bangku sekolah dasar
Tahun 2025 menandai peringatan ke-97 Hari Sumpah Pemuda, dengan tema nasional “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu.” Bagi sebagian orang, tema itu mungkin sekadar slogan tahunan. Namun bagi SDN 73 Kaseseng, kalimat itu diterjemahkan menjadi gerakan nyata — membentuk karakter anak-anak agar tumbuh dengan kesadaran kebangsaan dan rasa persatuan di tengah keberagaman.
Dalam amanatnya, Kepala Sekolah Eni Rosdiani menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda bukan hanya milik para remaja dan mahasiswa, tetapi juga harus mulai dipupuk sejak bangku sekolah dasar.
“Anak-anak harus paham sejak dini bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah. Justru dari perbedaanlah kita belajar menghargai, bersatu, dan saling menguatkan,” ujar Eni penuh keyakinan.
Ia menambahkan, bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Sumpah Pemuda — satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan — harus menjadi napas dalam pendidikan karakter di sekolah.
