Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, peringatan kali ini dibuat lebih hidup dan berwarna. Siswa-siswi tampil mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah, menggambarkan kekayaan budaya Indonesia. Ada yang memakai songkok Bugis, kebaya Jawa, hingga batik hasil buatan sendiri bersama orang tua di rumah. Sebuah bentuk kolaborasi kecil antara keluarga dan sekolah yang memperkuat rasa kebersamaan.
Selain upacara, sekolah juga menggelar sejumlah lomba seperti mewarnai, menggambar, lomba baca puisi, menyanyi solo, serta pengucapan ikrar Sumpah Pemuda. Dari lomba-lomba sederhana itu, tampak wajah-wajah ceria anak-anak yang tanpa sadar sedang belajar arti kompetisi sehat dan semangat kebangsaan.
Bagi mereka, kegiatan ini bukan sekadar ajang hiburan. Di balik tawa dan tepuk tangan, terselip misi besar: menanamkan nilai cinta tanah air, kejujuran, dan kerja keras.
Dari Desa untuk Indonesia
Jika dilihat dari luar, SDN 73 Kaseseng mungkin hanyalah salah satu sekolah dasar di pelosok Bulukumpa. Namun semangat yang ditunjukkan hari itu seolah menjadi miniatur dari semangat kebangsaan yang sesungguhnya.Sekolah ini membuktikan bahwa nasionalisme tidak hanya tumbuh di gedung-gedung tinggi kota besar. Ia bisa tumbuh di tanah desa, di bawah langit sederhana, lewat tangan para guru yang sabar mendidik.
“Dengan semangat peringatan Sumpah Pemuda ke-97 ini, kami ingin membentuk generasi yang berdaya, mandiri, dan bersatu dalam keberagaman yang indah,” tutur Eni Rosdiani di akhir kegiatan.
Upacara pun ditutup dengan doa dan nyanyian lagu kebangsaan. Tidak ada gemuruh tepuk tangan yang panjang, tapi ada rasa bangga yang tenang rasa yang tumbuh diam-diam di dada setiap siswa dan guru.
Mereka mungkin belum sepenuhnya memahami arti politik, sejarah, atau pergerakan. Tapi di SDN 73 Kaseseng, semangat Sumpah Pemuda telah diajarkan bukan lewat kata-kata, melainkan lewat keteladanan dan kebersamaan.
