MerahPutihIndonesia.com – Di sebuah sekolah negeri di Bulukumba, suasana belajar yang semula tenang mendadak pecah. Seorang pelajar yang baru saja membuka bungkus makanannya terperanjat: pisang yang seharusnya menjadi santapan sehat, justru dipenuhi ulat. Tak lama berselang, tempe yang dibagikan pun menunjukkan kondisi serupa berbau tak sedap, bertekstur aneh, dan tak layak konsumsi.
Kejadian itu mengubah wajah program makanan bergizi gratis yang semestinya menjadi kebanggaan, menjadi bahan cibiran dan kecemasan publik. Alih-alih menyehatkan, justru menimbulkan trauma dan rasa jijik.
Di Balik Dapur Program Bergizi
Bukan sekali ini program makanan bergizi di Bulukumba dipertanyakan kualitasnya. Beberapa kali masyarakat mengeluhkan rasa yang tak layak, bahan pangan yang basi, hingga distribusi yang tidak tepat waktu. Namun kali ini, bukti fisik berupa pisang dan tempe berulat menjadi tamparan nyata: ada yang salah, entah dalam proses pengadaan, distribusi, atau pengawasan.
Ketua Komite Merah Putih Indonesia (KMPI) Bulukumba, Amar Ma’ruf, langsung angkat suara. Ia menyebut kasus ini sebagai kelalaian serius yang tidak bisa lagi ditoleransi.
“Ini jelas kelalaian fatal. Jangan sampai ada dugaan main mata di balik program ini. Kalau ada permainan kotor dalam penyediaan makanan bergizi, maka yang jadi korban adalah anak-anak kita. Mereka butuh gizi, bukan racun,” kata Amar dengan nada geram.
Dugaan Main Mata dan Bisnis di Balik Program
Amar menduga, ada praktik asal-asalan dalam pelaksanaan program ini. Mulai dari pemilihan bahan pangan yang murah meriah tanpa standar, hingga kemungkinan adanya permainan anggaran. Program yang bernama besar “bergizi” itu seolah hanya indah di atas kertas, tetapi rapuh dalam praktik.
“Kalau kita telusuri, ini bukan hanya soal pisang dan tempe berulat. Ini soal mentalitas pengelola program. Apakah benar niatnya untuk menyehatkan anak-anak, atau sekadar proyek untuk menguras anggaran?” tanya Amar
Desakan Evaluasi untuk BGN
Dalam pernyataannya, Amar Ma’ruf juga mendesak agar pihak terkait, termasuk pemerintah pusat dan daerah, segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN). Ia menilai, kasus ini tidak bisa hanya diselesaikan di level daerah, tetapi perlu pertanggungjawaban struktural dari lembaga yang membawahi program makanan bergizi.
“BGN harus dievaluasi, terutama peran koordinatornya. Kalau pengawasan pusat lemah, jangan heran kalau di daerah muncul kasus seperti ini. Ini tanggung jawab struktural, bukan sekadar teknis,” tegas Amar.
Kesehatan Anak, Harga yang Terlalu Mahal untuk Dipertaruhkan
Para orang tua kini mulai resah. Mereka yang sebelumnya percaya pada program pemerintah, merasa dikhianati. Makanan bergizi yang menjadi hak anak didik justru menjadi ancaman kesehatan. Jika dibiarkan, kasus ini bisa mencederai kepercayaan publik sekaligus merusak generasi.
Amar menegaskan, KMPI Bulukumba akan terus mengawal kasus ini. Ia bahkan mendesak aparat penegak hukum untuk segera turun tangan mengusut kemungkinan adanya tindak pidana korupsi atau manipulasi anggaran.
“Ini harus diusut sampai tuntas. Jangan berhenti di level penyedia, tapi tarik benang merahnya hingga ke aktor utama. Kalau tidak, skandal ini akan terus berulang,” tutup Amar Ma’ruf.
Pertanyaan yang Menggantung
Kini publik menunggu: apakah desakan evaluasi terhadap Koordinator BGN benar-benar akan direspons, atau hanya menjadi isu sesaat?
Satu hal yang jelas, ulat dalam pisang dan tempe bukan sekadar simbol kelalaian. Ia adalah tanda peringatan bahwa ada sesuatu yang busuk, bukan hanya pada makanan, tapi juga pada sistem yang mengelolanya.
Penulis Zul Fajri
Penerbit REdaksi
