Wabup Edy Manaf Pimpin Upacara Hari Pahlawan: Seruan untuk Melanjutkan Perjuangan dengan Ilmu dan Pengabdian

Bulukumba – Merahputihindonesia.com— Pagi itu, langit Bulukumba tampak teduh, seolah ikut menundukkan kepala dalam hening. Di halaman Kantor Bupati Bulukumba, ribuan pasang mata menatap Sang Saka Merah Putih yang perlahan naik di tiang tertinggi. Angin membawa aroma perjuangan, di tengah sunyi yang penuh penghormatan — peringatan Hari Pahlawan Nasional 10 November 2025 berlangsung dengan khidmat.

Wakil Bupati Bulukumba, Andi Edy Manaf, berdiri tegap di hadapan peserta upacara. Suaranya mantap, menyampaikan pesan perjuangan yang tak lekang oleh waktu. Di hadapannya hadir jajaran Forkopimda, pimpinan OPD, TNI-Polri, ASN, pelajar, organisasi masyarakat, hingga para veteran pejuang saksi hidup yang masih menyimpan cerita getir masa perjuangan.

Read More

“Pahlawan bukan hanya nama yang terukir di batu nisan. Mereka adalah cahaya yang menerangi jalan bangsa hingga hari ini,” demikian pesan Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf yang dibacakan oleh Wabup Edy Manaf.

Dalam amanat itu, Menteri Sosial mengingatkan bahwa perjuangan tidak lagi dilakukan dengan senjata dan darah, tetapi dengan ilmu pengetahuan, empati, dan kerja nyata. Pahlawan hari ini, katanya, adalah mereka yang memberi manfaat di ruang kelas, di kantor pelayanan publik, di ladang, di rumah sakit, di jalanan, di mana pun rakyat berjuang menjaga kehidupan.

Tiga Warisan Abadi dari Para Pahlawan

Tiga nilai utama dari semangat kepahlawanan kembali digaungkan:

  1. Kesabaran dan keuletan dalam menghadapi perjuangan hidup dan membangun kebersamaan.
  2. Ketulusan tanpa pamrih, mengutamakan bangsa di atas kepentingan diri sendiri.
  3. Pandangan jauh ke depan, berjuang bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk generasi yang belum lahir.

Edy Manaf menegaskan bahwa semangat itu sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto — membangun ketahanan nasional, memperkuat pendidikan, menegakkan keadilan sosial, dan mewujudkan manusia Indonesia yang tangguh serta berdaya saing.

“Kini giliran kita menjaga agar api perjuangan itu tidak pernah padam. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan nyata,” tegasnya di hadapan peserta upacara.

Dari Upacara ke Ziarah: Mengingat yang Gugur, Menyemai yang Hidup

Usai upacara, langkah para peserta bergeser menuju Taman Makam Pahlawan Taccorong. Bunga-bunga ditabur dengan hati-hati, sementara doa mengalun lembut di antara nisan-nisan yang diam. Wajah-wajah muda pelajar tampak hening — mungkin baru memahami betapa mahalnya harga kemerdekaan.

Rombongan juga melanjutkan ziarah ke Makam Pahlawan Nasional Andi Sulthan Daeng Radja di Ponre, sosok pejuang asal Bulukumba yang namanya diabadikan sebagai simbol keberanian dan pengorbanan. Di tempat itu, sejarah seolah berbicara kembali mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hadiah, melainkan hasil darah dan air mata.

Tema yang Menyentuh Nurani Bangsa

Dengan mengusung tema “Pahlawanku Teladanku, Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan,” peringatan Hari Pahlawan tahun ini menjadi seruan bagi setiap warga negara untuk berbuat, bukan hanya berdiam. Untuk meneruskan perjuangan, bukan sekadar mengenang.

Semangat itu pula yang diharapkan akan terus menyala di dada masyarakat Bulukumba — dari kota hingga pelosok desa — bahwa setiap langkah kecil untuk kebaikan adalah bagian dari perjuangan besar bangsa.

Dan ketika upacara usai, langit Bulukumba tampak lebih terang. Seolah para pahlawan di alam sana tersenyum, menyaksikan generasi penerus yang masih setia menjaga bara perjuangan agar api kemerdekaan tak pernah padam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *