Opini: Politik Dapur, Kopi Pahit, dan Warkop yang Lebih Waras dari Senayan

MerahputihIndonesia.com- Asap rokok di warkop melayang tanpa beban. Kopi pahit di meja ada yang baru diseduh, ada yang sudah dingin menjadi saksi obrolan yang lebih jujur daripada sidang DPR. Dari harga cabai, gosip bola, sampai akhirnya ada yang buka ponsel dan membaca lantang tulisan Rocky Gerung:

“Waduh… Bagi² Proyek Dapur MBG? Tidak cukupkah gaji dan tunjangan selangit sebagai Anggota Dewan?”

Read More

Sekejap hening. Lalu tawa meledak. Seseorang nyeletuk: “Gajinya udah selangit, masih aja lapar proyek. Itu perut apa lubang hitam?”

Tawa itu pahit, tapi juga waras. Lebih waras daripada yang terjadi di Senayan.

 

Teori Politik ala Warkop

Jangan remehkan obrolan warkop. Di sana teori politik level internasional bisa keluar sambil ngopi. Anne Krueger menyebut fenomena ini rent-seeking elit politik berburu rente, bukan nilai. Rousseau sudah teriak sejak abad ke-18: wakil rakyat itu seharusnya menunaikan amanah, bukan berburu jatah dapur.

Tapi di Senayan, kontrak sosial sudah lama digadai. Nasibnya seperti nota kopi di warkop: gampang hilang, gampang ngutang, ujungnya lupa bayar.

Kalau Baudrillard masih hidup, mungkin dia akan bilang: politik di negeri ini bukan simulasi lagi, tapi komedi murahan. Di TV mereka pidato soal rakyat. Di ruang rapat sunyi, mereka berebut kue proyek seperti anak kecil rebutan permen.

 

Kopi Pahit, Politik Busuk

Kopi pahit di warkop bikin melek. Politik pahit di Senayan bikin rakyat muntah. Bedanya jelas: pahit kopi bisa ditambah gula. Pahit politik? Itu racun yang dipaksa masuk ke mulut rakyat.

Kita di warkop debat kusir lalu ketawa bareng. Mereka di Senayan debat palsu lalu bagi-bagi proyek. Hasilnya? Rakyat bayar tagihan, elit pesta pora.

Mereka pura-pura berdebat soal kepentingan bangsa, padahal yang diperebutkan cuma seberapa besar jatah dapur. Warkop lebih jujur: kalau nggak ada uang, ya bilang ngutang. Senayan lebih busuk: ngutang moral, nyolong integritas, lalu pura-pura suci di depan kamera.

 

Nafsu Tak Kenyang

Rocky Gerung bertanya: “Tidak cukupkah gaji dan tunjangan selangit?”

Jawabannya jelas: tidak akan pernah cukup. Karena yang lapar bukan perut, tapi nafsu. Nafsu tak pernah kenyang, bahkan kalau dituang satu negeri ke dalam mulutnya.

Politik seharusnya diseduh dengan integritas. Tapi di tangan mereka, politik jadi racikan basi: pahit, busuk, bikin rakyat keracunan.

 

Warkop dengan kopi hitamnya masih punya moral: pahit untuk menyadarkan. Senayan dengan proyek dapurnya cuma punya kerakusan: manis untuk dirinya, racun untuk rakyat.