Bulukumba.Merahputihindonesia.com – Apa yang sebenarnya terjadi di Bulukumba? Kelangkaan BBM jenis Pertalite di Kecamatan Kajang dan sekitarnya kini bukan lagi sekadar keluhan—ini sudah menjadi jeritan nyata masyarakat. Di tengah kebutuhan hidup yang kian berat, warga justru dipaksa menghadapi krisis energi yang melumpuhkan aktivitas mereka.
Lebih memprihatinkan lagi, harga Pertalite dan Pertamax di tingkat pengecer melonjak tak masuk akal, menembus Rp20.000 hingga Rp25.000 per liter. Harga yang seharusnya terjangkau kini berubah menjadi beban yang mencekik. Bagi masyarakat Kajang yang bergantung pada sektor pertanian, kondisi ini seperti pukulan telak—kendaraan tak bisa jalan, aktivitas terhenti, penghasilan pun terancam.
Pertanyaan besar pun menggantung: ini murni karena distribusi dari PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi yang bermasalah, atau ada permainan kotor para mafia BBM?
Dugaan kuat mulai mencuat. Kelangkaan ini diduga dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab yang menimbun BBM, lalu menjualnya kembali dengan harga tinggi. Momentum pasca-Idulfitri seolah dijadikan celah untuk meraup keuntungan di atas penderitaan rakyat kecil. Ironisnya, masyarakat tidak punya pilihan—meski mahal, BBM tetap dibeli demi bertahan hidup.
“Sangat miris. Rakyat dipaksa memilih antara berhenti bekerja atau membeli BBM dengan harga yang tidak manusiawi,” tegas Kifli, aktivis muda asal Kajang.
Ia menegaskan bahwa kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Pemerintah dan PT Pertamina harus segera turun tangan dan bertanggung jawab penuh atas krisis ini.
“Kami tidak akan diam. Ini bukan sekadar kelangkaan, ini bentuk ketidakadilan! Negara harus hadir. Jangan biarkan mafia bermain di atas penderitaan rakyat. Jika dalam 3×24 jam tidak ada langkah nyata, kami akan turun ke jalan, menggelar aksi besar-besaran di kantor pemerintah daerah dan instansi terkait. Kami ingin jawaban—ada apa di balik semua ini?” lanjutnya dengan nada tegas.
Kini, masyarakat Kajang menunggu. Bukan janji, bukan alasan tapi tindakan nyata.
Jika negara diam, maka rakyat yang akan bergerak.
