Garuda di Persimpangan: Antara Sejarah dan Kesalahan yang Diulang

MerahputihIndonesia.com — Ada yang selalu terasa ironis setiap kali PSSI mengumumkan perpisahan dengan pelatih tim nasional:

kata-kata yang tertata rapi, ucapan terima kasih yang sopan, lalu diakhiri dengan kalimat yang sudah terlalu akrab di telinga publik  “kami akan melakukan evaluasi menyeluruh.”

 

Unggahan Erick Thohir siang itu tidak berbeda. Visual Garuda tegap di langit merah, kalimat penuh wibawa, dan nada diplomatis yang dirangkai apik. Namun di balik semua estetika digital itu, publik tahu: ini bukan sekadar akhir kontrak. Ini adalah cermin dari pola lama yang kembali berulang  kegagalan struktural yang ditutup dengan kata manis.

 

Evaluasi yang Tak Pernah Usai

Sudah terlalu sering kita mendengar kata itu: evaluasi, berbenah, semangat baru.

Setiap kali kegagalan datang, kalimatnya serupa.

Seolah-olah dengan mengganti pelatih, semua masalah bisa disapu bersih seperti papan tulis yang dihapus sebelum pelajaran baru dimulai.

 

Padahal, coretan lama masih jelas terlihat:

Manajemen yang tambal-sulam,Visi jangka panjang yang kabur,dan sistem pembinaan yang lebih sering dikorbankan oleh kepentingan politik.

 

Patrick Kluivert datang dengan nama besar dan pengalaman internasional. Tapi tanpa fondasi kuat di dalam negeri, ia seperti arsitek yang diminta membangun rumah di atas tanah yang bergoyang.

Dan ketika bangunan itu retak, yang diusir selalu arsiteknya  bukan pemilik tanahnya.

Pertanyaannya sederhana tapi menyakitkan:

Kenapa setiap kali yang dipecat adalah pelatih, bukan sistem yang melahirkannya

 

Antara Janji dan Paradoks

Erick Thohir menulis, “Kita mungkin belum sampai pada tujuan besar, tapi kita sudah menapaki sejarah yang belum pernah ada sebelumnya.”

Kalimat itu terdengar indah  sekaligus paradoksal.

Karena sejarah bukan hanya soal pencapaian sementara, melainkan tentang arah yang berkelanjutan.

Apa artinya menapaki ronde keempat kualifikasi, jika pondasinya rapuh dan mudah runtuh setiap kali angin politik berubah arah?

Kita bicara soal target 100 besar FIFA, tapi liga domestik masih sering berhenti di tengah jalan.

Kita bermimpi tampil di Piala Dunia 2030, tapi lapangan-lapangan di daerah masih berlubang.

Kita ingin jadi negara sepak bola modern, tapi pola pikir masih sangat feodal  menggantungkan segalanya pada satu figur, bukan sistem.

 

Perpisahan yang Seharusnya Jadi Refleksi

Perpisahan dengan Kluivert seharusnya bukan sekadar prosesi dengan caption heroik di media sosial.Ia semestinya menjadi momen refleksi nasional waktu untuk menatap cermin dan bertanya:

Apakah kita benar-benar sedang membangun, atau hanya berputar di tempat yang sama?”

Karena hari ini, sepak bola Indonesia seperti kapal megah tanpa kompas.Setiap kapten datang membawa bendera baru, lalu pergi ketika badai pertama datang.

Sementara suporter tetap setia di tepi dermaga, menatap kapal itu berlayar  berharap, lalu kecewa, berulang kali.Yang kita butuhkan bukan lagi janji terbang tinggi, tapi landasan yang kokoh.

Bukan ucapan perpisahan yang indah, tapi keberanian membongkar akar masalah  dari tata kelola liga, pembinaan pemain muda, hingga transparansi anggaran.

 

Lebih dari Sekadar Skor

Sepak bola bukan sekadar soal skor dan kualifikasi.Ia adalah refleksi dari cara bangsa ini menata sistem, memimpin, dan belajar dari kesalahan.

Dan selama PSSI masih sibuk mengganti figur tanpa memperbaiki fondasi, maka sejarah akan terus menulis bab yang sama  dengan nama pelatih yang berbeda.

Mungkin sudah waktunya federasi berhenti menulis “terima kasih” di unggahan perpisahan.Dan mulai menulis kalimat yang lebih jujur dan berani:

Ini kesalahan yang tidak akan kami ulangi lagi.

Karena tanpa itu, Garuda akan terus terbang bukan menuju masa depan,melainkan berputar dalam lingkaran yang sama: tinggi sebentar, lalu jatuh lagi di tempat yang dulu.

 

 

 

 

 

 

Penulis Fitriani 

Penerbit Redaksi 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *