Komentar “Mafia Bola” di Tengah Semifinal Bulukumpa, Kritik atau Merendahkan Kompetisi?

Komentar “Mafia Bola” di Tengah Semifinal Bulukumpa, Kritik atau Merendahkan Kompetisi?

BULUKUMBA,Merahputihindonesia.com — Semifinal Piala Kemerdekaan HUT ke-81 RI Kecamatan Bulukumpa antara Jawi-Jawi dan Bontobulaeng berakhir 0-3. Namun, pertandingan itu kemudian disertai komentar yang menuai sorotan di media sosial.

Seorang pemuda asal Jawi-Jawi, Ahmad Saiful, menulis komentar yang menyebut dugaan “mafia bola” telah menyentuh level paling bawah. Ia juga menyinggung adanya manajer tim lawan yang disebut menghubungi pemain yang akan dihadapi.

“Sampai level terbawahami mafia bola. Manager tim lawan menelfon pemain yang akan dihadapi. Piala kacang-kacang,” tulisnya.

Komentar tersebut bukan sekadar kritik terhadap jalannya pertandingan. Frasa “piala kacang-kacang” justru berpotensi merendahkan sebuah kompetisi yang digelar dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI.

Kritik dalam sepak bola adalah hal biasa. Tetapi kritik semestinya tetap menghormati pemain, panitia, dan seluruh pihak yang terlibat. Apalagi turnamen tingkat kecamatan bukan hanya soal menang dan kalah, melainkan juga ruang silaturahmi serta pembinaan bagi para pemain muda.

Kekalahan 0-3 tentu bisa diperdebatkan. Keputusan wasit boleh dikritisi. Permainan tim boleh dievaluasi. Bahkan dugaan pelanggaran aturan pun layak dipersoalkan.

Namun, menyebut sebuah turnamen sebagai “piala kacang-kacang” justru dapat menggeser substansi kritik menjadi komentar yang tidak etis.

Sepak bola seharusnya mengajarkan satu hal sederhana: menang dengan hormat, kalah dengan kepala tegak, dan mengkritik tanpa merendahkan.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *