Merahputihindonesia.com – Babak baru Desa Lelewawo sebentar lagi dimulai. Pergantian kepemimpinan di tingkat desa kini bergerak menuju hitungan waktu.
Namun, momentum ini semestinya tidak berhenti sebagai seremoni pergantian kursi kekuasaan. Lebih dari itu, ia harus menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menentukan ke mana Desa Lelewawo hendak dibawa.
Di tengah dinamika tersebut, ada satu kekuatan yang tidak boleh memilih menjadi penonton: pemuda.
Selama ini, suara anak muda dalam politik desa kerap ditempatkan di pinggir. Dianggap belum cukup matang untuk menentukan arah. Padahal, pemudalah yang kelak paling panjang merasakan akibat dari setiap keputusan yang dibuat hari ini.
Karena itu, sebagai anak muda Desa Lelewawo, ada satu pertanyaan yang patut diajukan:
Apa yang harus dilakukan?
Jawabannya bukan berdiam diri.
Pemuda harus duduk bersama, membuka ruang dialog, menguji gagasan, membaca persoalan, lalu menentukan sikap secara sadar untuk masa depan Desa Lelewawo.
Sebab politik desa tidak semestinya hanya berkisar pada siapa memperoleh kursi dan siapa kehilangan kekuasaan. Politik desa harus berbicara tentang siapa yang mampu membaca persoalan masyarakat, memahami potensi desa, menyusun arah pembangunan, serta membangun tata kelola pemerintahan yang benar-benar bekerja untuk kepentingan warga.
PEMUDA BUKAN SEKADAR PENONTON
Lelewawo tidak miskin pemuda.
Desa ini memiliki energi, gagasan, kreativitas, dan potensi yang besar. Persoalannya bukan ada atau tidak adanya potensi, melainkan bagaimana potensi itu diberi ruang dan diarahkan menjadi kekuatan pembangunan.
Pemuda tidak membutuhkan panggung yang hanya dibuka ketika ada seremoni. Pemuda membutuhkan ruang yang nyata untuk berbicara, menyampaikan gagasan, mengawasi jalannya pemerintahan, sekaligus terlibat langsung dalam pembangunan.
Sebab desa tidak pernah dibangun oleh pemerintah desa seorang diri.
Desa tumbuh dari kerja bersama: pemerintah, masyarakat, pemuda, tokoh masyarakat, perempuan, kelompok tani, nelayan, pelaku usaha, serta seluruh elemen yang hidup dan menggantungkan masa depannya di desa.
Karena itu, Lelewawo membutuhkan kepemimpinan yang mampu merangkul, bukan memecah; membangun sistem, bukan sekadar membangun citra; serta membuka ruang partisipasi, bukan membungkam kritik.
Pemimpin yang kuat bukan mereka yang takut pada kritik. Justru dari kritik, sebuah pemerintahan dapat bercermin.
PEMIMPIN HARUS PUNYA KOMPAS DAN MAMPU MEMBACA PETA
Memimpin desa bukan sekadar berdiri di depan masyarakat.
Seorang pemimpin membutuhkan kompas untuk menentukan arah dan peta untuk membaca medan.
Kompas adalah keberanian menentukan tujuan. Peta adalah kemampuan memahami kenyataan.
Popularitas saja tidak cukup. Jaringan politik saja tidak cukup. Dukungan keluarga atau kelompok juga tidak otomatis menjadi ukuran kemampuan memimpin.
Yang lebih penting adalah kapasitas membaca kebutuhan masyarakat dan mengubahnya menjadi kebijakan yang dapat dirasakan.
Apa sebenarnya potensi ekonomi Desa Lelewawo?
Apa persoalan paling mendesak yang dihadapi masyarakat?
Bagaimana pemuda mendapatkan ruang dan kesempatan?
Bagaimana sektor pertanian, perikanan, usaha masyarakat, pendidikan, dan ekonomi lokal dapat dikembangkan?
Bagaimana pemerintahan desa dapat berjalan lebih transparan, terbuka, dan partisipatif?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang semestinya memenuhi ruang diskusi menjelang lahirnya kepemimpinan baru.
Bukan sekadar siapa yang paling banyak memasang baliho.
Bukan siapa yang paling ramai dibicarakan.
Dan bukan pula siapa yang paling kuat jaringan keluarganya.
Yang harus diperdebatkan adalah gagasan. Yang harus diuji adalah kapasitas. Yang harus dilihat adalah rekam jejak.
SAATNYA PEMUDA MENENTUKAN SIKAP
Pemuda tidak boleh hanya hadir di tempat pemungutan suara, mencoblos, lalu menyerahkan seluruh masa depan desa kepada siapa pun yang terpilih.
Demokrasi tidak berhenti di bilik suara.
Pemuda harus berani bertanya. Berani berdiskusi. Berani mengkritik. Dan yang paling penting, berani menentukan sikap berdasarkan gagasan, integritas, kapasitas, dan rekam jejak.
Jangan memilih hanya karena hubungan keluarga.
Jangan memilih semata-mata karena kedekatan.
Jangan pula menyerahkan pilihan kepada janji yang tidak pernah diuji.
Jika seorang calon memiliki gagasan, tanyakan bagaimana gagasan itu akan diwujudkan.
Jika memiliki program, tanyakan sumber daya dan langkah kerjanya.
Jika mengaku mampu memimpin, masyarakat berhak mengetahui kapasitas dan rekam jejaknya.
Di situlah politik menjadi sehat.
Sebab pemilu desa bukan perlombaan mencari siapa yang paling hebat berjanji. Ia adalah proses memilih siapa yang paling siap memikul tanggung jawab.
APAKAH LELEWAWO MEMBUTUHKAN WAJAH BARU?
Pertanyaan ini layak diletakkan di tengah meja dan dibicarakan tanpa prasangka:
Apakah Desa Lelewawo membutuhkan wajah baru dalam kepemimpinan?
Jawabannya tidak semestinya ditentukan oleh usia, nama keluarga, status sosial, ataupun kelompok tertentu.
Sebab wajah baru tidak selalu berarti orang yang paling muda.
Wajah baru bisa berarti gagasan baru, cara kerja baru, keberanian baru, dan komitmen baru.
Jika ada anak muda yang memiliki kapasitas, gagasan, keberanian, serta kemampuan merangkul seluruh lapisan masyarakat, mengapa ruang itu harus ditutup?
Bukankah regenerasi kepemimpinan merupakan bagian penting dari demokrasi?
Pemuda tidak harus menunggu tua untuk belajar memimpin.
Kepemimpinan bisa dimulai dari hal-hal sederhana: memimpin gagasan, mengorganisasi kegiatan sosial, membangun diskusi, menyelesaikan persoalan masyarakat, dan menunjukkan tanggung jawab.
Jika kelak memiliki kapasitas yang cukup, tidak ada alasan bagi pemuda untuk takut mengambil tanggung jawab yang lebih besar.
ERA BARU DIMULAI DARI KEBERANIAN
Lelewawo tidak membutuhkan sekadar pergantian nama di kursi kepala desa.
Lelewawo membutuhkan perubahan cara berpikir.
Perubahan cara bekerja.
Dan yang paling penting, perubahan keberanian untuk melihat desa bukan sebagai arena perebutan kekuasaan, melainkan sebagai ruang pengabdian.
Momentum politik desa harus menjadi ruang untuk membicarakan masa depan. Bukan sekadar tentang siapa menang dan siapa kalah.
Pemuda harus hadir sebagai kekuatan moral dan intelektual.
Bukan sebagai massa yang hanya dikumpulkan ketika dibutuhkan.
Bukan sebagai suara yang hanya dicari ketika pemilihan tiba.
Tetapi sebagai bagian penting dari proses menentukan arah desa.
Pemuda harus mampu menawarkan gagasan, mengawal demokrasi, mengawasi pemerintahan, sekaligus memastikan kepentingan masyarakat tidak tenggelam oleh kepentingan politik sesaat.
Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar sebuah kursi kepala desa.
Yang dipertaruhkan adalah masa depan Desa Lelewawo.
Karena itu, mari duduk bersama.
Mari berembuk.
Mari membaca keadaan.
Mari menguji gagasan.
Dan mari menentukan arah.
Jika hari ini pemuda memilih diam, jangan heran jika masa depan desa kelak ditentukan tanpa suara mereka.
Namun jika pemuda berani mengambil sikap, menyatukan gagasan, dan memperjuangkan kepentingan masyarakat, maka era baru Desa Lelewawo tidak lagi sekadar menjadi slogan.
Ia dapat menjadi kenyataan.
Saatnya pemuda Lelewawo menentukan sikap.
Saatnya memilih pemimpin yang memiliki kompas.
Saatnya memilih pemimpin yang mampu membaca peta.
Dan saatnya Desa Lelewawo bergerak menuju masa depan—bukan dengan janji, melainkan dengan keberanian, gagasan, dan kerja nyata.

