Mahasiswa Baru Bukan Objek Pembungkaman, HMI Tantang UIN Alauddin

Mahasiswa Baru Bukan Objek Pembungkaman, HMI Tantang UIN Alauddin

MAKASSAR,MERAHPUTIHINDONESIA.COM,, PBAK UIN Alauddin Makassar 2026 semestinya menjadi pintu masuk mahasiswa baru ke ruang ilmu, keberanian berpikir, dan kebebasan berekspresi. Bukan menjadi pelajaran pertama tentang bagaimana suara dibatasi.

 

Adriansyah Putra, Kabid Sosial Politik dan Demokrasi HMI Cabang Gowa Raya, menantang UIN Alauddin membuktikan komitmennya terhadap kebebasan akademik.

 

Menurutnya, kebebasan akademik tak cukup menjadi slogan. Ia harus terlihat dalam kebijakan dan perlakuan kampus terhadap mahasiswa.

 

“Kalau alasan pembatasan ekspresi mahasiswa adalah ketertiban, kami ingin tahu: apakah standar ketertiban yang sama juga berlaku bagi seluruh pihak yang menggunakan ruang kampus?” tegas Adriansyah.

 

Ia juga mempertanyakan konsistensi kampus terkait kehadiran unsur eksternal, termasuk unsur militer, ketika ekspresi mahasiswa justru dibatasi.

 

“Kami tidak sedang mempertentangkan mahasiswa dengan institusi militer. Kami mempertanyakan standar dan konsistensi kampus. Jangan sampai mahasiswa menjadi pihak yang paling mudah dibatasi di rumah akademiknya sendiri,” ujarnya.

 

HMI Cabang Gowa Raya meminta kampus membuka dialog dan menjelaskan secara terbuka dasar pembatasan ekspresi mahasiswa serta penggunaan ruang kampus.

 

“Jangan hanya bicara tentang kampus yang demokratis. Buktikan bahwa kritik mahasiswa benar-benar memiliki tempat di dalamnya.”

 

Bagi HMI, mahasiswa baru datang membawa gagasan, bukan untuk belajar takut bersuara.

 

Kampus kuat bukan kampus tanpa kritik. Kampus kuat adalah kampus yang berani menerima kritik.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *