Bulukumba,Merahputihindonesia.com — Riuh tepuk tangan, sorak kemenangan, dan denting kartu domino yang selama dua hari mewarnai GOR Matajang akhirnya perlahan mereda. Turnamen Domino Bulukumba Cup I yang sukses menyedot perhatian ribuan pengunjung dari berbagai daerah resmi berakhir, meninggalkan cerita tentang persaingan, persaudaraan, dan sportivitas yang begitu hangat terasa.
Namun, di balik gemerlap perayaan para juara dan antusiasme ribuan pasang mata yang memadati arena, terselip sebuah pemandangan sederhana yang sarat makna.
Saat para peserta dan pengunjung mulai meninggalkan lokasi, panitia turnamen tidak serta-merta membubarkan diri. Dengan penuh kesadaran dan rasa tanggung jawab, mereka justru bergotong royong membersihkan seluruh area pertandingan. Kursi-kursi dirapikan kembali, meja-meja dikembalikan ke tempatnya, dan setiap sudut GOR Matajang dibersihkan dari sisa-sisa aktivitas yang telah menjadi saksi kemeriahan turnamen terbesar yang pernah digelar tersebut.
Tidak ada sorotan kamera. Tidak ada tepuk tangan penonton. Hanya semangat kebersamaan yang bekerja dalam diam.
Ketua Panitia, Dadang Darmawan yang akrab disapa Sam Prakoso, mengatakan bahwa menjaga kebersihan lokasi merupakan bagian dari komitmen panitia untuk menghadirkan kegiatan yang tidak hanya sukses dalam pelaksanaan, tetapi juga memberikan contoh yang baik kepada masyarakat.
“Kami datang membawa semangat persaudaraan, maka kami juga harus pulang dengan meninggalkan kebaikan. Arena yang telah menjadi tempat berkumpulnya ribuan orang ini harus kami kembalikan dalam keadaan bersih dan tertata,” ujarnya.
Menurutnya, kesuksesan sebuah kegiatan tidak hanya diukur dari jumlah peserta, kemegahan acara, atau tingginya antusiasme masyarakat. Lebih dari itu, keberhasilan sejati terlihat dari bagaimana sebuah kegiatan ditutup dengan rasa tanggung jawab dan kepedulian.
Di tengah semangat kompetisi yang telah usai, panitia Bulukumba Cup I menunjukkan bahwa kemenangan tidak selalu berbentuk trofi dan hadiah. Ada kemenangan yang lahir dari kesadaran, gotong royong, dan penghormatan terhadap fasilitas publik yang telah digunakan bersama.
Turnamen telah selesai. Para juara telah membawa pulang kebanggaannya masing-masing. Namun ketika lampu arena mulai redup dan keramaian perlahan menghilang, panitia Bulukumba Cup I meninggalkan satu pesan yang lebih abadi: bahwa jejak terbaik bukanlah yang ditinggalkan di atas meja pertandingan, melainkan nilai-nilai baik yang tetap hidup setelah semua pertandingan berakhir.
